Keluarga nelayan Kampung Saharey, Fakfak, Papua Barat, mengolah hasil tangkapan menjadi produk olahan ikan dengan pendampingan TEP Unhas. (Foto: Kementrans)
FAKFAK — Semangat swasembada pangan yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto kini terasa hingga pesisir Papua Barat. Di Kampung Saharey, Distrik Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, keluarga nelayan yang dulu hanya menjual ikan segar kini mengolah hasil tangkapan menjadi beragam produk pangan bernilai tambah, dengan keuntungan sekitar tiga kali lipat dari modal.
Perubahan ini lahir dari pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Kementerian Transmigrasi. Sebanyak 20 kepala keluarga nelayan dari kelompok Seir Saharey mengikuti program ini.
Dari Takut Ikan Membusuk ke Produk Bernilai Tambah
Anggota TEP Unhas, Adnan, menuturkan bahwa sebelumnya nelayan setempat enggan menangkap ikan dalam jumlah besar karena khawatir hasil tangkapan cepat rusak, sehingga pendapatan mereka tidak stabil. Kurangnya keterampilan pengolahan pascapanen, teknologi tepat guna, dan akses pasar menjadi tantangan utama.
Melalui pendampingan, para istri nelayan dilatih membuat bakso, pentol, nugget, sambal, kerupuk, dan abon ikan tanpa bahan pengawet, menggunakan alat pengasapan dan vacuum sealer. Pelatihan juga mencakup pengemasan dan pelabelan, sanitasi, manajemen usaha, hingga pemasaran. Para nelayan pun belajar penanganan pascapanen dengan cold storage yang mampu menjaga ikan tetap segar selama 5–7 hari.
Pendapatan Rp400 Ribu hingga Rp800 Ribu per Hari
Hasilnya nyata. Dengan modal harian Rp100 ribu hingga Rp300 ribu, kelompok nelayan kini dapat meraup pendapatan Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per hari dari produk olahan ikan.
Salah satu peserta, Mama Nayu Ohoibor, mengaku kini bisa membuat abon, bakso, nugget, dan kerupuk ikan. “Tadinya yang kita hanya makan dan jual dengan murah,” tuturnya, menggambarkan bagaimana ikan yang dulu bernilai rendah kini menjadi sumber penghasilan keluarga.
Sejalan dengan Visi Swasembada Pangan
Program ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya kemandirian bangsa. “Kita harus swasembada pangan dan energi. Kita tidak boleh bergantung dengan bangsa lain,” kata Presiden dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, 19 September 2026.
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam dialog bersama TEP di Jayapura, 17 September 2026, mendorong tim memetakan persoalan lokal dan mencari solusi yang sesuai dengan kondisi setempat. “Karena permasalahan itu pada akhirnya konteksnya lokal,” ujar AHY.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menegaskan arah baru program transmigrasi yang berfokus pada pengembangan kawasan berkelanjutan. “Transformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk,” katanya.
Kisah nelayan Saharey menjadi bukti bahwa pendampingan yang tepat sasaran dapat mengubah potensi laut di kampung pesisir menjadi kesejahteraan nyata, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari desa.
Disarikan dari Kementerian Transmigrasi dan detikNews.
