November 3, 2026
WhatsApp Image 2026-11-02 at 08.39.03 (2)

Kepala Desa Bentek, Warna Wijaya, bersama masyarakat Desa Bentek

Lombok Utara, desabersuara.id – Melalui sambungan telepon pada Minggu, 1 November 2026, tim redaksi berkesempatan mewawancarai secara eksklusif Kepala Desa Bentek, Warna Wijaya. Dari ujung telepon, suaranya terdengar hangat dan antusias saat berbincang mengenai komitmennya menjaga ketahanan budaya Suku Sasak sekaligus merawat kerukunan warga di wilayah yang ia pimpin.

“Wallaikumsalam. Desa adalah rumah bersama. Yang meliputi kesetaraan, persaudaraan (polong renten), kebersamaan, toleransi, dan tanggung jawab,” tutur Warna Wijaya membuka percakapan. Ia memaparkan bahwa arah pembangunan desanya ditopang teguh oleh lima pilar gerakan: persaudaraan lintas iman, gotong royong dan solidaritas, adat dan kearifan lokal, pendidikan dan keteladanan, serta keadilan dan kesejahteraan.

Dalam wawancara tersebut, Warna menjelaskan bahwa wilayah Lombok Utara, yang berpusat pada kawasan seperti Kecamatan Bayan, memegang peranan krusial sebagai jantung kebudayaan tua Sasak. Akar tradisi leluhur hidup berdampingan dengan agama, seperti yang terlihat pada praktik Islam Wetu Telu yang mengusung filosofi “adat dipangku, agama dijunjung”. Harmonisasi masa lalu ini tecermin dari berdirinya Masjid Kuno Bayan Beleq sejak abad ke-16 serta kemeriahan perayaan Maulid Adat yang sarat akan ritual komunal seperti bebalong (memasak bersama).

Warna juga menyoroti bagaimana tata krama sosial masih diaplikasikan secara disiplin oleh warga, terutama melalui prosesi pernikahan. Mulai dari etika Merariq (kawin lari), musyawarah adat Sorong Serah Aji Krame, hingga kemeriahan Nyongkolan yang diiringi musik tradisional Gendang Beleq, seluruhnya masih dipraktikkan oleh generasi muda Suku Sasak di wilayah tersebut.

Menutup perbincangan di kediamannya sore itu, Warna Wijaya menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan keberagaman sebagai fondasi utama, bukan halangan.

“Slogan Desa Bentek: rumah kita bersama. Berbeda iman tetap bersaudara, berbeda budaya tetap bersatu, bersama-sama membangun desa sebagai rumah bersama,” pungkasnya dengan penuh keyakinan.

Tinggalkan Balasan