Dampak Banjir di Pidie Jaya (dok. portaljatim)
Pidie Jaya, desabersuara.id – Bencana banjir kembali menerjang wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut tanpa henti telah menyebabkan debit air sungai melonjak drastis dan meluap ke permukiman. Tercatat, sedikitnya 17 desa (gampong) yang tersebar di lima kecamatan kini lumpuh akibat terendam air bah.
Kondisi terparah dipicu oleh jebolnya tanggul pertahanan Krueng (Sungai) Meureudu. Konstruksi tanggul yang tak lagi mampu menahan derasnya terjangan arus sungai pada akhirnya jebol, memuntahkan luapan air secara masif ke pemukiman penduduk. Akibatnya, belasan desa tersebut tidak hanya tergenang air biasa, melainkan diterjang banjir lumpur pekat yang merangsek masuk ke dalam rumah-rumah warga, merendam fasilitas umum, serta merusak harta benda dan perabotan.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menunjukkan bahwa lima kecamatan menjadi episentrum wilayah yang terdampak paling parah dari luapan sungai ini. Petugas gabungan kini terus disiagakan di berbagai lokasi untuk membantu proses evakuasi, khususnya bagi kelompok rentan, serta melakukan kaji cepat untuk mendata total kerugian materiil. Tingginya genangan banjir lumpur juga dilaporkan memutus akses jalan di beberapa titik, menyulitkan mobilitas tim penyelamat.
Di tengah proses evakuasi yang masih berlangsung, warga Pidie Jaya tak bisa menyembunyikan rasa frustrasi dan keputusasaan mereka. Masyarakat setempat mengungkapkan bahwa banjir ini seolah menjadi agenda rutin yang selalu datang setiap kali hujan deras mengguyur wilayah mereka. Kecemasan akan keselamatan keluarga dan hancurnya tempat tinggal kini terus menghantui setiap turun hujan.
Masyarakat dengan tegas mempertanyakan sampai kapan kondisi ini akan dibiarkan, seraya menuntut solusi permanen dari pemerintah daerah maupun pusat. Warga mendesak dilakukannya normalisasi aliran Krueng Meureudu secara menyeluruh dan pembangunan infrastruktur tanggul yang jauh lebih kokoh agar tragedi serupa tidak terus berulang di masa mendatang.
Catatan Redaksi: Berita ini disadur dari Kompas, situs resmi BPBA Aceh, Tribun Prohaba, dan Portal Jatim.
