November 4, 2026
Kepala BI Sulut Joko Supratikto dan TP PKK meluncurkan Gerakan Tanam Cabai di Manado

Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara Joko Supratikto dan TP PKK meluncurkan Gerakan Tanam Cabai di Manado. (Foto: RRI Manado)

Inflasi tahunan Sulawesi Utara mencapai 8,07 persen pada Oktober 2026, tertinggi nasional, dengan cabai sebagai pemicu utama. BI Sulut dan TP PKK meluncurkan Gerakan Tanam Cabai di pekarangan rumah.

MANADO — Sulawesi Utara mencatat inflasi tahunan tertinggi di Indonesia pada Oktober 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Sulut mencapai 8,07 persen secara tahunan (year on year), jauh di atas inflasi nasional sebesar 3,23 persen.

“Secara tahunan, seluruh provinsi mengalami inflasi, tertinggi terjadi di Sulawesi Utara 8,07%,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (2/11/2026), seperti dikutip CNBC Indonesia. Di bawah Sulut, inflasi tertinggi tercatat di Papua Pegunungan (7,22 persen), Papua Barat (6,38 persen), dan Maluku Utara (6,18 persen), sedangkan yang terendah di DKI Jakarta (2,52 persen).

Secara nasional, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi, dengan cabai rawit sebagai salah satu penyumbang terbesar. Komponen harga bergejolak (volatile food) naik 5,81 persen, didorong antara lain oleh cabai rawit, beras, daging ayam ras, daging sapi, tomat, dan cabai merah.

Konsumsi Cabai Sulut Tiga hingga Empat Kali Rata-rata Nasional

Menjawab tekanan harga tersebut, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara bersama Tim Penggerak PKK tingkat provinsi, kota, dan kabupaten meluncurkan Gerakan Tanam Cabai. Konsumsi cabai di Sulut disebut mencapai tiga hingga empat kali lipat rata-rata nasional, sementara pasokan dari dalam provinsi belum mampu mengimbangi permintaan dan cuaca ekstrem kian menekan produksi lokal.

“Cabai adalah komoditas strategis bagi keseharian masyarakat Sulawesi Utara, sekaligus salah satu pemicu utama inflasi daerah tahun ini,” jelas Kepala Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto, seperti dikutip RRI. Menurutnya, ketergantungan pada pasokan luar daerah membuat rantai pasok rentan terhadap guncangan cuaca dan fluktuasi harga.

Dari Pekarangan untuk Dapur Keluarga

Melalui gerakan ini, warga didorong memanfaatkan pekarangan atau pot di halaman rumah untuk menanam cabai, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga panen. Tahap awal difokuskan di Kota Manado dan Kabupaten Minahasa Utara dengan 130 bibit cabai sebagai pemicu, dan BI siap menambah bibit sesuai permintaan serta kesiapan PKK di tiap wilayah.

“Jika setiap rumah mampu memenuhi sebagian kebutuhan cabainya sendiri, beban pengeluaran rumah tangga akan lebih ringan dan tekanan permintaan terhadap pasar berkurang,” ujar Wakil Ketua TP PKK Sulut Dr. Merry Mailangkay Kalalo. Hasil panen dapat langsung dimanfaatkan keluarga, misalnya untuk sambal dabu-dabu khas Sulut, dan bisa ditanam bersama tomat untuk menghemat lahan.

Gerakan yang disosialisasikan lewat lomba video edukatif ini berpotensi diperluas ke kabupaten lain, sehingga ketahanan pangan keluarga sekaligus stabilitas harga di Sulawesi Utara dapat terjaga dari tingkat rumah tangga.

Disarikan dari CNBC Indonesia, Kontan, dan RRI Manado.

Tinggalkan Balasan