November 3, 2026
Screenshot 2026-11-02 at 13.56.37

Bupati Bekasi dr. Asep Surya Atmaja menghadiri pagelaran seni di Destinasi Wisata Kawung Tilu, Kampung Ciranggon, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, Sabtu (31/10/2026) (Dok. Diskominfo Kab. Bekasi)

Bekasi, desabersuara.id – Di tengah kepungan kawasan industri yang kian masif, Kabupaten Bekasi ternyata masih menyimpan permata budaya yang terus bersinar. Destinasi Wisata Kawung 3 (Tilu), Kampung Ciranggon, yang berlokasi di Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, sukses membuktikan bahwa kemajuan tidak melulu harus mengorbankan kesederhanaan dan tradisi lokal.

Eksistensi kampung wisata ini semakin dipertegas melalui perhelatan Pagelaran Seni Budaya yang berlangsung meriah pada Sabtu (31/10/2026) lalu. Festival tersebut menampilkan beragam atraksi, mulai dari tari-tarian tradisional hingga pertunjukan pencak silat, sebagai medium untuk merawat warisan budaya sekaligus mendongkrak denyut ekonomi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

Bupati Bekasi, dr. H. Asep Surya Atmaja, yang turut hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian warga Kampung Ciranggon. Menurutnya, pengembangan sebuah desa wisata tidak cukup jika hanya menjual lanskap yang indah. Pelestarian tradisi, budaya, dan denyut kehidupan sosial masyarakat justru menjadi magnet utama yang tidak bisa dilepaskan.

“Walaupun Bekasi dikenal sebagai kota industri, tradisi dan budaya tidak boleh ditinggalkan. Budaya merupakan cerminan sekaligus landasan moral masyarakat yang harus kita pertahankan,” ujar Asep. Ia sangat menghargai warga Ciranggon yang masih teguh memegang semangat gotong royong, menjaga suasana perdesaan yang asri, serta aktif menjalankan kegiatan pertanian di tengah modernisasi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, Mien Aminah. Ia menegaskan bahwa Kampung Ciranggon memegang peranan historis yang penting karena merupakan desa pertama di Kabupaten Bekasi yang mengantongi Surat Keputusan (SK) penetapan sebagai desa wisata. Pergelaran seni ini, tambahnya, adalah wujud nyata upaya mempromosikan pariwisata berkelanjutan yang melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Dampak dari pelestarian budaya ini berbanding lurus dengan geliat ekonomi warga. Ketua Desa Wisata Kampung Ciranggon, Izaz Al-Hady, mengungkapkan bahwa indikator keberhasilan destinasi ini terlihat jelas dari tingginya antusiasme pengunjung. Berdasarkan perputaran transaksi para pedagang lokal, Kampung Ciranggon diperkirakan menarik hingga 5.000 wisatawan setiap pekannya.

Meski angka kunjungan menembus ribuan orang, Izaz menekankan bahwa daya pikat utama desanya justru terletak pada kesederhanaannya. Wisatawan kini cenderung merindukan interaksi sosial yang hangat, alam terbuka yang hijau, serta keaslian suasana perdesaan. “Tidak harus selalu dengan gedung mewah atau sesuatu yang serba modern. Justru kekuatan sederhana yang kita miliki—suasana kampung, sawah, budaya, dan kehidupan masyarakat—dapat menjadi daya tarik tersendiri,” ungkap Izaz.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa warga lokal di Ciranggon tidak sekadar menjadi penonton di kampungnya sendiri. Kehadiran ekosistem wisata ini memberikan ruang besar bagi masyarakat untuk tetap bertani, berdagang, dan mempertahankan mata pencaharian harian mereka. Dengan menjaga roda perekonomian dari bawah, masyarakat memiliki fondasi yang kuat untuk merawat nilai-nilai gotong royong yang sering kali memudar di era modern.

Keberhasilan Kampung Ciranggon adalah bukti nyata bahwa jika dikelola dengan bijak, sektor pariwisata dan pelestarian budaya mampu berjalan beriringan untuk menciptakan kemandirian dan kesejahteraan bagi warga perdesaan.

Catatan Redaksi: Berita ini disadur dari SwaraJabar.id, Koran Perdjoeangan, Pikiran Rakyat, dan Portal Jabarprov.

Tinggalkan Balasan