Ilustrasi petani garam tradisional di Bali. (Foto: Bali Post)
DENPASAR — Produksi garam di Provinsi Bali hingga September 2026 mencapai 864.946 kilogram atau sekitar 864,9 ton. Dari tiga kabupaten sentra produksi, Buleleng menjadi penyumbang terbesar dengan 743,2 ton, atau sekitar 86 persen dari total produksi garam Bali.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bali Putu Sumardiana mengatakan, produksi garam meningkat seiring masuknya musim kemarau. Namun, aktivitas produksi masih sangat bergantung pada cuaca, terutama bagi petambak tradisional.
Produksi per Kabupaten (Januari–September 2026)
- Buleleng: 743.200 kg. Produksi baru dimulai Juni (13.700 kg), lalu melonjak menjadi 167.300 kg pada Juli, 249.800 kg pada Agustus, dan 312.400 kg pada September.
- Karangasem: 101.838 kg. Produksi nihil pada Januari–April karena musim hujan, baru dimulai Mei (850 kg) dan mencapai 37.335 kg pada September.
- Klungkung: 19.908 kg. Berproduksi sejak Januari dengan volume yang terus naik, dari 170 kg menjadi 4.077 kg pada September.
Ditopang Kelompok Petani Garam Desa
Besarnya produksi Buleleng ditopang kelompok petani garam tradisional di desa-desa pesisir, antara lain Desa Pejarakan di Kecamatan Gerokgak, serta Desa Tejakula dan Desa Les di Kecamatan Tejakula. Di wilayah itu tercatat 128 petani yang tergabung dalam 23 kelompok, dengan metode tradisional yang memanfaatkan air laut sebagai bahan baku.
Musim hujan menjadi kendala utama. “Kalau musim hujan, hanya sedikit produksi yang bisa dilakukan, yakni yang menggunakan rumah kaca. Untuk yang tradisional tidak bisa karena pasir terkena hujan sehingga tidak bisa berproses untuk membuat air tuanya,” ujar Sumardiana, seperti dikutip Bali Post.
Garam Premium Tembus Ekspor
Pemasaran garam Bali terbagi dua segmen. Garam lokal umumnya diserap koperasi untuk kebutuhan pasar di Bali, sedangkan garam premium bersertifikat Indikasi Geografis (IG) dipasarkan ke luar daerah hingga pasar ekspor.
Potensinya masih besar. Pemetaan DKP Bali mencatat 19 titik lokasi potensial pergaraman di tujuh kabupaten/kota, dengan lahan potensial seluas 184,01 hektare, sementara tambak aktif baru 65,23 hektare. Saat ini terdapat 54 kelompok petambak garam dengan 494 rumah tangga petambak. Optimalisasi lahan, penguatan kelompok, dan dukungan sarana seperti rumah kaca dinilai penting agar produksi tetap berjalan saat cuaca tidak mendukung, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi garam bagi warga pesisir.
Disarikan dari Bali Post.
