November 6, 2026
Menko Pangan Zulkifli Hasan berbicara di Rakernas III PJS Indonesia di Batam

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam Rakernas III PJS Indonesia di Batam, Rabu (4/11/2026). (Foto: Engesti/GoKepri)

Menko Pangan Zulkifli Hasan menyoroti CPO, nikel, dan timah Indonesia yang diekspor lewat negara tetangga dengan harga jauh lebih murah, dan menegaskan Indonesia ingin ekspor langsung.

BATAM — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti pola perdagangan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia yang dinilai belum memberikan nilai optimal bagi negara. Menurutnya, banyak komoditas unggulan Indonesia justru diekspor melalui negara tetangga dengan harga jauh lebih rendah dibanding harga di pasar tujuan akhir.

Hal itu disampaikan Zulhas, sapaan akrabnya, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Dewan Pimpinan Pusat Pro Jurnalis Media Siber (PJS) Indonesia di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (4/11/2026).

“Kita ingin jadi negara maju, berdaulat. Saya kadang kesal juga. Produksi CPO terbesar, nikel, timah terbesar, tapi ekspornya lewat negara tetangga.”

Zulkifli Hasan, Menko Pangan

Selisih Harga Bertahun-tahun

Zulhas mencontohkan perdagangan CPO yang menurutnya merugikan Indonesia. “Harga CPO Rp27.000, kita jual ke tetangga Rp15.000. Berarti kita rugi Rp13.000. Bertahun-tahun. Kita tidak mau lagi masa bodoh terus. Kita ingin ekspor langsung,” ujarnya.

Ia menegaskan, persoalan ini bukan sekadar soal harga jual, tetapi juga kemampuan Indonesia mengendalikan rantai perdagangan dan memperoleh nilai ekonomi lebih besar dari komoditas yang dihasilkannya sendiri. “Kalau ada apa-apa, kita Indonesia yang rugi,” katanya.

Zulhas juga menyinggung sejumlah persoalan lain yang menurutnya kerap menempatkan Indonesia pada posisi dirugikan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, antrean BBM di Bali, hingga sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia.

Kekayaan Alam untuk Kemakmuran Rakyat

Menko Pangan mengingatkan amanat Pasal 33 UUD 1945 agar kekayaan alam dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ia juga menyinggung ketahanan pangan Indonesia yang masih bergantung pada impor beras, gandum, gula, kedelai, dan garam.

Menurutnya, jawabannya adalah meningkatkan produktivitas petani, peternak, dan nelayan melalui mekanisasi, teknologi, dan perbaikan manajemen produksi. “Kalau rakyat kita tergantung bantuan terus, dana tunai, tidak mungkin Indonesia maju. Kita harus melatih, memberi kesempatan, memberi peluang agar rakyat produktif,” tegasnya.

Di hadapan para insan pers, Zulhas juga meminta organisasi media memperkuat pelatihan jurnalis agar informasi yang disajikan akurat. “Dampak dari berita-berita yang tidak tepat itu bukan hanya satu pihak yang rugi, tetapi kita semua sebagai bangsa,” ujarnya.

Disarikan dari Bisnis.com dan GoKepri.

Tinggalkan Balasan