Oktober 30, 2026
Fasilitas hulu migas PT Pertamina Hulu Energi

Fasilitas hulu migas PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina. (Foto: Dok. PHE)

Pertamina mengumumkan temuan migas raksasa di Sumur Padang Pancuran, Wilayah Kerja Jambi Merang, Sumatera Selatan, dengan potensi hingga 1,4 miliar barel. Pertamina juga membangun ekosistem migas non-konvensional di Blok Rokan yang potensinya lebih dari 11 miliar barel.

DENPASAR — Kabar menggembirakan datang dari sektor energi. PT Pertamina (Persero) mengumumkan temuan potensi cadangan minyak dan gas bumi (migas) raksasa di Sumatera. Potensi terbesar berada di Sumur Padang Pancuran, Wilayah Kerja (WK) Jambi Merang, Sumatera Selatan, dengan taksiran cadangan hingga 1,4 miliar barel.

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menyebut temuan ini sebagai giant discovery. Dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, ia memaparkan potensinya bisa mencapai 1,4 miliar barel. Sementara itu, di sela pertemuan ke-51 ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) di Sanur, Bali, Rabu (28/10/2026), Oki menegaskan potensi dari Padang Pancuran saja bisa melampaui 1 miliar barel.

“Penemuan di Padang Pancuran menjadi salah satu yang terbesar yang kami miliki saat ini dan sedang kami percepat proses pengembangannya.”

Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina

Saat ini temuan tersebut masih dalam tahap pengembangan sebelum berproduksi. Pertamina tengah mengurus perizinan dan menargetkan pengeboran sejumlah sumur dalam waktu dekat. “Mudah-mudahan kita bisa mengebor beberapa sumur tahun ini,” kata Oki.

Blok Rokan Simpan Potensi Lebih dari 11 Miliar Barel

Selain Jambi Merang, Pertamina juga membangun ekosistem pengembangan migas non-konvensional di Blok Rokan, Riau, yang menyimpan potensi hidrokarbon lebih dari 11 miliar barel. “Untuk di Sumatra kita sedang membangun ekosistem untuk unconventional oil and gas di Rokan,” ujar Oki.

Agar biaya pengeboran per sumur lebih efisien, Pertamina ingin menggandeng sekitar 50 penyedia jasa lokal. Model ini meniru keberhasilan Permian Basin di Texas, Amerika Serikat, salah satu ladang minyak non-konvensional paling produktif di dunia.

75 Persen Belanja Modal untuk Hulu

Untuk mendukung target pemerintah memproduksi 1 juta barel minyak per hari pada 2030, Pertamina mengalokasikan sekitar 75 persen belanja modal (capex) ke sektor hulu. “Jadi kita mengalokasikan sekitar 75% dari Capex kita ke hulu,” kata Oki.

Sejak 2021, Pertamina menyumbang hingga 65 persen produksi minyak mentah nasional. Ke depan, kawasan Indonesia Timur yang didominasi potensi gas menjadi wilayah utama eksplorasi perusahaan.

Harapan Baru bagi Ketahanan Energi

Temuan ini datang di saat Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM). Produksi minyak siap jual (lifting) nasional dalam beberapa tahun terakhir masih di bawah 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi BBM mencapai 1,5–1,6 juta barel per hari.

Dari sisi pengolahan, total kapasitas kilang minyak nasional berada di kisaran 1,05 juta barel per hari, tersebar di enam kilang utama Pertamina:

  • Kilang Cilacap, Jawa Tengah: 348 ribu barel per hari (terbesar)
  • Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur: sekitar 260 ribu barel per hari (sedang dimodernisasi)
  • Kilang Dumai, Riau: sekitar 170 ribu barel per hari
  • Kilang Balongan, Jawa Barat: 150 ribu barel per hari
  • Kilang Plaju, Sumatera Selatan: 126 ribu barel per hari
  • Kilang Kasim, Papua Barat Daya: 10 ribu barel per hari

Karena produksi dalam negeri belum mencukupi, kilang-kilang tersebut kerap mengolah gabungan minyak mentah lokal dan impor. Dengan tambahan cadangan dari Jambi Merang dan Rokan, ketergantungan pada impor diharapkan bisa berkurang sehingga ketahanan energi nasional makin kuat.

Disarikan dari CNBC Indonesia dan Berita Senator.

Tinggalkan Balasan