Oktober 30, 2026
Laus D.C. Rumayom dari Analisis Papua Strategis menghadiri One Ocean Week Seattle Summit 2026 di Bell Harbor International Conference Center, Seattle

Laus D.C. Rumayom, pendiri Analisis Papua Strategis, menghadiri One Ocean Week Seattle Summit, 19–25 Oktober 2026, di Bell Harbor International Conference Center, Seattle, Amerika Serikat. (Foto: APS/Portal Papua)

Akademisi Universitas Cenderawasih sekaligus pendiri Analisis Papua Strategis, Laus D.C. Rumayom, hadir di One Ocean Week Seattle Summit 2026 dan memaparkan posisi strategis Papua dalam geopolitik maritim Indo-Pasifik.

SEATTLE — Suara dari Tanah Papua menggema di forum maritim internasional di Amerika Serikat. Laus D.C. Rumayom, akademisi Hubungan Internasional FISIP Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, menghadiri One Ocean Week Seattle Summit pada 19–25 Oktober 2026 di Bell Harbor International Conference Center, Seattle, Negara Bagian Washington.

Laus merupakan pendiri sekaligus Ketua Umum Analisis Papua Strategis (APS) dan APS Center for Development and Global Studies. Ia juga pernah menjabat Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden pada 2019–2024.

Forum yang diselenggarakan Maritime Blue ini memadukan dialog kebijakan tingkat tinggi dengan inovasi praktis, program budaya, dan pelibatan generasi muda. Selama sepekan, pemimpin kelautan, inovator, investor, pembuat kebijakan, akademisi, seniman, hingga komunitas berkumpul membahas pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan dan inklusif.

Papua, Gerbang Indonesia ke Pasifik

Dalam forum tersebut, Laus menekankan bahwa posisi Tanah Papua perlu dilihat bukan hanya dari sisi geografis, melainkan sebagai bagian dari strategi maritim Indonesia. Menurutnya, Papua adalah simpul strategis konektivitas perdagangan global.

“Papua bukan hanya wilayah perbatasan, tetapi juga gerbang penghubung Indonesia dengan Pasifik Selatan.”

Laus D.C. Rumayom, Ketua Umum Analisis Papua Strategis

Ia menyebut Sorong, Jayapura, dan Merauke berpotensi menjadi simpul logistik, energi, dan perdagangan regional yang menghubungkan Indonesia dengan negara-negara Pasifik dan Australia, asalkan didukung infrastruktur yang memadai dan kebijakan yang terintegrasi.

Di Tengah Persaingan Kekuatan Global

Laus juga menyoroti persaingan kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik, termasuk kepentingan Amerika Serikat dan Tiongkok serta kemitraan pertahanan AUKUS (Australia, Inggris, dan Amerika Serikat) yang turut memengaruhi negara-negara tetangga Papua seperti Papua Nugini. Dalam situasi ini, ia mendorong Indonesia menjaga kedaulatan sambil tetap berpegang pada politik luar negeri bebas aktif.

Di sisi keamanan, perairan timur Indonesia masih rawan penangkapan ikan ilegal, penyelundupan, dan aktivitas lintas batas. Menurut Laus, penanganannya tidak cukup lewat penegakan hukum semata, tetapi juga perlu penguatan pengawasan dan tata kelola kelautan. Penguatan infrastruktur pelabuhan dan konektivitas wilayah timur, katanya, menjadi bagian penting dari kedaulatan ekonomi dan integrasi maritim.

Ekonomi Biru yang Adil bagi Masyarakat Pesisir

Yang tak kalah penting, Laus mengingatkan bahwa pembangunan maritim di Papua harus melindungi masyarakat pesisir dan Orang Asli Papua, serta memberi manfaat langsung bagi warga lokal. Papua, tegasnya, tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai koridor perdagangan atau wilayah sumber daya.

“Ekonomi biru harus dibangun dengan prinsip keberlanjutan dan keadilan,” ujarnya.

Kehadiran Laus di Seattle menjadi contoh bagaimana putra Papua dapat membawa perspektif daerah ke panggung global, memastikan bahwa kampung-kampung pesisir di ujung timur Indonesia ikut diperhitungkan dalam percakapan dunia tentang masa depan laut.

Disarikan dari Portal Papua, Indotimur News, Odiyaiwuu, Ketik, dan Babeto.

Tinggalkan Balasan