Oktober 30, 2026
Petani Desa Jetak, Sidoharjo, Sragen, berkain lurik dan bercaping menari di sawah dalam tasyakuran Memetri Budaya Methil

Petani Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, menggelar tasyakuran Memetri Budaya Methil di area persawahan, Selasa (27/10/2026). (Foto: Diskominfo Sragen/jatengprov.go.id)

Berkain lurik dan bercaping, petani Desa Jetak, Sidoharjo, Sragen, menari di sawah dalam tasyakuran Memetri Budaya Methil. Panen musim ini mencapai sekitar 11 ton per hektare.

SRAGEN — Balutan kain lurik dan caping menghiasi langkah para petani yang menari bersama di tengah hamparan sawah Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Selasa (27/10/2026). Diiringi alunan tembang Gugur Gunung, mereka menggelar tasyakuran Memetri Budaya Methil sebagai ungkapan syukur atas panen yang melimpah.

Methil merupakan tradisi pertanian Jawa yang diwariskan turun-temurun. Lewat tasyakuran ini, petani Jetak tidak hanya merayakan hasil kerja keras mereka, tetapi juga berupaya merawat warisan budaya agrarisnya agar tidak hilang ditelan zaman.

Lahir dari Aspirasi Petani

Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Dharma Tirta Tani Mulyo Desa Jetak, Didik Sunardi, menuturkan bahwa tasyakuran ini lahir dari keinginan para petani sendiri. Mereka ingin budaya methil tetap hidup, terutama di kalangan generasi muda.

“Tasyakuran methil ini merupakan aspirasi para petani. Budaya adiluhung yang mulai banyak ditinggalkan generasi muda ini ingin kami lestarikan dan kembangkan setiap akhir tahun sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.”

Didik Sunardi, Ketua P3A Dharma Tirta Tani Mulyo Desa Jetak

Selain sebagai wujud syukur, kegiatan ini diharapkan bisa digelar rutin untuk mempererat kebersamaan antarpetani di desa tersebut.

240 Hektare, 725 Petani, 11 Ton per Hektare

Didik menjelaskan, Desa Jetak memiliki lahan pertanian sekitar 240 hektare yang dialiri irigasi teknis dari Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Lahan tersebut digarap oleh 725 petani yang tergabung dalam delapan kelompok tani, dengan pola tanam padi–padi–palawija dalam setahun sesuai arahan pola tanam daerah.

Hasilnya menggembirakan. Pada musim panen kali ini, produktivitas padi di Desa Jetak mencapai sekitar 11 ton per hektare. Capaian itu menjadi penyemangat bagi petani untuk terus menjaga produktivitas lahan sekaligus memastikan ketersediaan air bagi keberlanjutan usaha tani mereka.

Sragen Penyangga Pangan Jawa Tengah

Bupati Sragen Sigit Pamungkas yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi hasil panen Desa Jetak serta ketekunan para petani dalam mengelola lahan.

“Kami turut senang hasil panen di Desa Jetak sangat bagus,” ujar Sigit.

Menurutnya, produktivitas seperti ini penting untuk menjaga posisi Sragen sebagai salah satu daerah penyangga pangan Jawa Tengah. Produksi gabah Sragen tercatat sekitar 350.000 ton per tahun, jauh di atas kebutuhan masyarakat setempat yang berkisar 100.000 ton per tahun. Surplus inilah yang membuat Sragen berkontribusi besar bagi ketahanan pangan di tingkat provinsi.

Dari sawah Jetak, tradisi dan produktivitas berjalan beriringan: budaya leluhur dirawat, panen pun melimpah.

Disarikan dari Portal Resmi Pemprov Jawa Tengah (jatengprov.go.id) dan Berita Jogja.

Tinggalkan Balasan